Bandung, Juli 2012.

Aku sudah berstatus murid kelas delapan. Rasanya senang, namun juga sedih.
Aku senang karena aku naik kelas dengan nilai yang bagus, sedih karena apakah kelas 7A akan masih bersatu atau dipecah?

Dari awal pikiranku saja sudah diduga kalau kelas akan dipecah dan disebar ke kelas lain. Bukan dari saat kenaikan, aku dan lainnya di 7A sudah memikirkan hal itu sejak awal semester dua. Ketika itu teman dari kelas lain mengatakan kelas kami akan benar-benar dipecah. Ah...

Ternyata dugaanku benar, Sharen memberitahu bahwa aku dan sebagian lain masuk kelas 8B. Aku coba tanya Galih, atau Lerisa. Mereka masuk 8A. Aku tanya Adam, Aldi, dan Ramdani. Mereka masuk 8F.

Aku merutuk dalam hati, kenapa kelasnya dipecah? Alasannya apa? Apa mungkin karena gosip saat itu waktu 7A sempat bermasalah sama kakak kelas? Entahlah.

*********

Suasana hari ini terasa mendung. Otakku masih berputar-putar mengingat pengumuman itu. Aku mencoba menyembunyikan perasaan kecut itu dengan candaan dan senyuman di depan adik kelas yang hendak di MOS. Saat ini aku adalah anggota OSIS, aku ditugaskan di kelas 7J, kelas yang mendadak muncul ketika H-1 MOS.

Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi di saat yang tidak tepat? Apa Engkau sudah takdirkan sebelumnya?
 
Mendadak ingatanku tertuju pada suatu kejadian di dalam angkot, ketika itu ada kakak kelas berteriak. Aku masih ingat kalimatnya.

"Nab, gak kerasa kita udah kelas sembilan lagi. Setahun kok rasanya cepet banget."
"Iya, Syif. Kangen beraaaaat..."

Mendengar kalimat itu saja sudah bikin pikiran melayang kemana-mana. Kalau sekarang ada orang disampingku, pasti sudah aku cekik saking frustasasinya.

Karena omongan itu tidak akan bisa terbukti di kehidupanku, mungkin dengan yang lainnya.
*********

Kutatap daftar nama murid 8B, dan ternyata... Oh My, banyak nama-nama yang aku benci. Dibenci karena perilaku mereka saat kelas tujuh. Apalagi ada salah satu nama yang paling aku tidak suka. Aku tidak akan sebutkan. Seperti yang dikatakan oleh guru: Kesan pertama adalah penentu hari-hari selanjutnya.

Tapi ada juga nama anak yang lumayan baik, sebagian ada yang bisa diajak ngobrol. Oke, sekarang mulai tidak terlalu buruk.

Aku mencoba berteman dengan orang yang aku kenal terlebih dahulu. Maksudnya, lebih mendekati serta mendalami satu sama lain. Lalu aku mengamati anak-anak nakal, ternyata  mereka tidak seburuk yang aku ekspetasikan sebelumnya. Justru dengan perbedaan karakter dari setiap orang, kelas 8B diibaratkan sebagai puzzle yang saling melengkapi.

Beberapa waktu kemudian aku mulai bisa beradaptasi dengan dunia baru ini. Dan aku mulai membenarkan anggapan kakak kelas itu.

*********

Sekarang

Tidak bermaksud munafik atau apapun, tapi aku memang menyukai kelas delapan. Mulai dari gurunya, suasananya, sampai teman-teman yang, aku tidak bisa menjelaskannya. Speechless.

Tak terasa tinggal satu semester lagi dengan kalian semua. Lewat kalian aku mendapat pelajaran paling berharga dalam hidup.

Jangan melihat sesuatu hanya dari tampang depan. Coba dekati, dan perdalam. Siapa tahu belum tentu anggapan orang terhadap sesuatu itu benar adanya.

Semoga dengan tulisan ini kalian semua dapat merasakan hal yang sama :)
Awalnya, tepatnya siang tadi, di jejaring sosial salah satu teman saya menge-post tweet yang kalau tidak salah, isinya seperti ini:

"Ih, malu-maluin sekolah aja mbak! Haha"
  
Tweet tersebut memang tidak menunjukkan sebuah hal mencurigakan, toh dia saja tidak menyebutkan siapa objek yang dimaksud. Lalu dengan rasa penasaran yang tinggi, saya menanyakan siapa orang yang dia sebut itu.

Dia hendak memberitahu, tapi lewat Direct Messages, bukan di Timeline langsung. Oke, sepertinya ini menyangkut hal pribadi yang orang lain tidak perlu tahu. Kemudian saya langsung menuju Direct Messages.

Dia memberikan sebuah link web. Oh, dari FB rupanya. Namun yang buat saya heran adalah kenapa di link tersebut terdapat kata 'Photos'? Saya sedikit curiga.
Akhirnya saya membukanya. Saya sedikit kaget dan geleng-geleng kepala. Apa-apaan ini?! Kok bisa ya anak seangkatan saya meng-upload foto semacam ini.

*********

Heboh memang, tapi bukan pada siang itu.

Lalu sorenya mendadak Twitterland menjadi kacau dan gempar dengan foto tersebut. Tapi bukan dia yang menyebarkan. Entah siapa.

Mulai dari kakak alumni sampai sebagian kecil adik kelas ikut membicarakan. Semua cercaan dan makian dilontarkan tanpa sensor.

"Tu cewek murahan banget!"
"Woy, malu-maluin sekolah tau gak!"
"Mungkin dia terinspirasi dari film 17+ ya? Makanya dia gitu."
 "Cepetan lapor ke BP, sebelum terlambat."

Pacaran sih pacaran, tapi tidak sevulgar dan separah ini. Apa cewek di foto itu dibiarkan terlalu bebas di luar kah? Apa pergaulannya salah?

**********

Foto yang membuat gempar seisi jejaring sosial itu adalah: foto dia berciuman bibir dengan kekasihnya di lapangan sekolah. What a F*ckin' Picture. Ya ampun....

"Yang lain ngidolain boyband, gue ngidolain news anchor."

Begitulah penggalan dari bio akun jejaring sosial saya saat itu. Terdengar aneh memang, tapi ini benar.

Saya memang sejak kecil sudah mengidolakan sejumlah presenter berita, baik laki-laki maupun perempuan. Saya memang mengidolakan mereka karena tampangnya yang lumayan cantik dan tampan. Hehehe, kebuka deh aib saya -_-

Tapi saya tidak akan membahas lebih jauh lagi soal itu. Saya ingin bercerita apa yang terjadi di sekolah saya, masih ada sedikit kaitannya dengan curhatan di atas tadi.

Hari Selasa, di ruang kelas 8B, Bu Masrifah menyuruh semua siswa untuk membaca cepat 250 kata per menit. Saya bersama Sharen (teman sebangku saya) lagi asyik ngobrol sana-sini.
Kemudian mata saya mengalihkan pandangan menuju depan papan tulis. Saya melihat ada anak cowok yang lagi di-tes.

Namun...... yang membuat saya kepikiran sampai sekarang adalah saat saya melihat wajah anak itu. Mengingatkan saya pada salah satu idola saya. Sedikit mirip.

'Sher, siapa sih nama anaknya?' tanya saya.
'Setau aku sih Syahrul. Emangnya kenapa, Ril?' jawab Sharen.
'Mirip Indra doooooong!!! Aaaaaah!!'
'Hah? Masa iya?'

*********

Setibanya di rumah, saya masih membayangkan muka cowok yang namanya Syahrul itu. Dalam keadaan kepala terbenam di bantal, saya menjerit histeris tak karuan. Di dalam hati.

Dan hingga keesokannya, di kelas saya hanya memandang Syahrul. Sampai saat ulangan tengah semester pun, sesekali saya menoleh ke bangkunya.
Gila gak, sih? Konyol banget.

Pada akhirnya saya sempat ngobrol-ngobrol sedikit dengannya. Sayangnya, dia terlalu polos. Kalau ditanya sesuatu pasti dijawabnya singkat. Begitu main mata juga dia menodong saya dengan kata 'Apa?!'.

*********

Ceritanya memang lumayan pendek dan kurang jelas (saya akui itu). Tapi karena fanatisme saya terhadap idola saya, ya sudah, saya seolah-olah bertemu, mengobrol, dan bermain dengan idola saya itu. Singkatnya seperti itu.



Apa sih sahabat itu?

Dilihat dari kacamata seorang Nuril, sahabat merupakan suatu hubungan yang bisa dikatakan lebih 'intim' dari teman.

Bermula dari sebuah obrolan kecil, lalu kerja kelompok bareng, sampai berujung pada sebuah perjanjian bahwa kita akan menjadi satu kesatuan yang tak akan bisa dilepas. Ya, seperti yang sudah saya sebutkan, SAHABAT. Tanggal 17 bulan Februari tahun 2012.

Jujur. Selama hidup saya, baru saat SMP saya merasakan atmosfir persahabatan yang sesungguhnya. Mereka seolah mengingatkan saya apa arti 'sahabat' sebenarnya, dan tak jarang saling melengkapi. Mereka pulalah yang membantu menyelesaikan masalah ketika yang satu tak bisa melakukan itu seorang diri.

Tapi tak jarang pula mereka--begitupun saya--kerap berselisih paham. Entah itu karena hal sepele (contohnya: main hape orang tanpa izin), sampai yang cukup serius (contohnya: saya waktu itu sempat menghina teman saya gara-gara kejadian razia ponsel secara besar-besaran di sekolah yang melibatkan dia yang merupakan anggota OSIS). Tapi semua itu tidak mengoyak hubungan persahabatan hingga menjadi robekan-robekan kecil.

Oh, sudah tidak terasa lebih dari 9 bulan kita bersahabat. Walaupun kelas kita entah dimana dan entah kapan disatukan kembali, mudah-mudahan kita masih terikat dengan pertemanan ini.
Dan hingga kita terpisah kembali ke belahan dunia lain, semoga kita akan terus ingat hal ini. I Love You All!

-Sheiliyana Sharen, aku, Fitri Mardiyyah, Annisa Rizkymelia Paraditha, Galih Sekarwangi, Anindita Milenia Sabatini- @AfikaaaFams
Namaku Nuril Lutfiah, panggil saja Nuril.
Aku lahir di Pekalongan, tanggal 3 Januari tiga belas tahun lalu. Mungkin saat ini aku akan menginjak usia empat belas.
Aku bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Bandung, kelas dua. Ya, orang-orang berpendapat bahwa kelas inilah kelas dimana karakter para siswanya paling menggila, paling susah diatur.
Dan tentu saja, paling sering berfantasi.
Oke, segitu saja kenalannya. Agak terkesan lebay, ya? Hahaha..... habis masa baru nge-blog cuma kenalan? Udah gitu cuma sekilas? Sekarang otak aku lagi buntu buat nulis.

Sampai ketemu lagi di tulisan-tulisan lainnya... Hehehe ^^