Waktu memang terasa lama jika kau sedang menunggu, namun terasa sangat cepat jika kau sedang terburu-buru.
Waktu memang terasa lama jika kau sedang merasa sedih, namun terasa sangat cepat jika kau sedang bahagia.

Sudah hampir satu tahun kita bersama. Ada satu hal yang kita semua inginkan, dan semua anak-anak kelas delapan SMP lainnya. Kita tak ingin berpisah. Entah kenapa, rasanya aneh bila dibandingkan dengan perasaanku terhadap kelas ini saat tahun ajaran baru.

*****

Aku masih ingat ketika baru memasuki kelas delapan ini. Menurutku, ini sama saja dengan memasuki planet selain planet yang aku pijak saat ini. Aku benci bertemu dengan orang-orang yang dicap sebagai 'anak nakal', karena aku yakin mereka pasti membawa pengaruh buruk. Hanya sebagian orang yang aku kenal baik.

Kemudian rasa benci itu diperparah dengan kondisi ruang kelas yang seperti tak terurus, ruangan itu bercat abu-abu dan hiasan dindingnya pun hanya tempelan slogan-slogan hasil tugas kakak kelas angkatan sebelumnya.

Rasanya ingin mengiris-iris nadi. Miris.

*****

Aku tak menghitung berapa lama aku beradaptasi. Semuanya mengalir begitu saja.

Semua anggapan-anggapan itu lama-lama terkikis, ketika aku menyadari segala yang terjadi dalam kelas. Tidak semua 'anak nakal' itu benar-benar nakal. Aku bisa melihat kegilaan, kegokilan, dan hal-hal lain yang meramaikan suasana.

Lalu anak-anak perempuannya. Dulu saat pertama kali tatap muka, mereka semua hanya menyunggingkan senyum malu-malu. Namun sifat asli dari masing-masing keluar juga. Aku tidak bermaksud negatif, kok. Maksudnya, ternyata mereka sangat humble, heboh, dan mudah berbaur. 

That's one of my reason why I don't want to leave this class.

*****

Masih ada kenangan lain dari kelas ini.

Tentu kalian masih ingat dengan PORSENI, kan?
Saat itu pertandingan futsal putra sedang berlangsung, dan Farhan mencetak gol. Tak lama berselang kita semua dibuat kaget dengan cedera yang dialami dia. Farhan terlihat memegang dahi dengan lengannya, dan tak disangka darah mengucur deras sampai mengenai rompi.
Anak-anak perempuan menangis karena tak tega. Dan anak laki-laki demikian, meskipun gol itu berbuah kemenangan tipis.

Kita memenuhi ruang dalam papan tulis dengan kalimat-kalimat yang berkonteks 'Get Well Soon, Akung (sebutan akrab untuk Farhan)!'. Betapa mengenaskan kala itu.

Kalian banyak menciptakan istilah-istilah khas, aku tidak tahu siapa yang menciptakan. Mulai dari #Watchument, #EMISS, Kentang Bakar, Moal Kuat, mungkin kalian bisa menambahkan.

Beberapa anak-anak di sini punya julukannya masing-masing. Ada Alfin dengan 'Biwir S**' karena bibirnya yang menggoda, Syahrul dengan 'Um' karena seperti om-om, Syifa Aisyah dengan 'Syifais' atau 'Pais' dan Syifa Aulya dengan 'Sipaul', Gina Widyanti dengan 'Ginawe', Isa dengan 'Mahe', Fajar dengan 'Capruk' karena sedang belajar bicara, serta masih banyak julukan yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu.

Setiap anak-anak memiliki ketertarikan atau idola masing-masing. Contohnya aku, yang mengidolakan Indra Maulana, presenter berita di salah satu televisi swasta. Lalu ada Ninda yang mengidolakan Cherrybelle, Syifa Aisyah yang mengidolakan Nicky 'XOIX', Tiara Puspita dengan Super Junior, Wanda dengan One Direction, dan masih banyak lagi.

Ada pula cinta lokasi. Misalnya, aku dengan Syahrul. 
Singkat cerita, aku memiliki rasa terhadapnya di bulan September. Aku tak tahu kenapa aku bisa suka, mungkin bisa dibilang die hard admirer nya karena wajah Syahrul mirip dengan idola. Kalian tau sendiri siapa.
Ada Ginawe dengan Fauzi yang sempat berpacaran (aku tak tahu tanggal jadiannya berapa, aku lupa) dan sudah lama putus.

Yang paling fenomenal, yaitu hubungan spesial diantara Ahmad, ketua murid dengan Sharen, teman sebangkuku. Mereka meresmikan menjadi sepasang kekasih pada tanggal cantik. Tanggal 12, bulan Desember, tahun 2012. Bahkan anak-anak kelas menyebut mereka dengan sebutan 'Bapak Negara - Ibu Negara'.

*****

Aku merasa beruntung bisa memiliki wali kelas seperti Bu Masrifah. Dengan ide-ide yang brilian, beliau berhasil menyulap ruang kelas kami menjadi lebih cerah, bahkan kelas kami berhasil menyabet juara pertama lomba kebersihan dua periode berturut-turut. Beliau juga memiliki paras cantik bak boneka Barbie. Beliau begitu perhatian dengan kami. Terima kasih atas segala nasihat dan kepeduliannya terhadap kami semua.

Aku juga merasa beruntung memiliki teman seperti kalian. Aku sadar, dibalik kenakalan kalian terselip kegokilan yang bisa menghangatkan hari-hari selama ada di sini. Kalian berhasil merubah stigma buruk tentang suramnya kelas kita dulu. You're so unforgettable.

*****
Aku berharap kita masih bisa bertemu suatu saat nanti. Aku akan merindukan kalian semua!

@delapaan_be:
  • Ahmad Safira Firdaus
  • Aldian Fallahakbar Nuriza
  • Alfin Firmansyah
  • Ardhianty Rifa Algiana
  • Chantika Puspita
  • Dika Afrizal
  • Dika Muhammad Ilham Novtadijanto
  • Faisal Darmawan
  • Fajar Putra Tri Nugroho
  • Fani Nurhandini
  • Farhan Dedi Sofyan
  • Fathiya Izzatunnissaa
  • Fathur Rozak Fianto
  • Fauzi Ramadhan
  • Ghina Salsabila
  • Gina Widyanti
  • Irvan Ramadhanny
  • Jihan Noer Ainun Farda
  • Kharina Citra Wati
  • Martha Alvianingsih
  • Moch. Syahrul Syaefudin
  • Mochammad Iqbal Fauzan
  • Muhammad Adnan Faisal Assidik
  • Muhammad Billy
  • Muhammad Ilham
  • Muhammad Isa Mahendra
  • Ninda Tiara
  • Nuril Lutfiah Saleh
  • Prayudha Nata Permana
  • Raden Muhammad Fahmi Gema Akbar
  • Rahmania Wanda Zafira
  • Rahmita Annur Irawati
  • Rangga Febrian
  • Revi Mochamad Fickry
  • Shania Tamara Fahira
  • Sheiliyana Sharen
  • Syifa Aisyah Putri
  • Syifa Aulya Tyana Poetri
  • Thiara Pratiwi Putri
  • Tiara Puspita Prameswary
  • Vera Megayanti
  • Yolanda Nur Fitria
  • Yusuf Hardianto Tri Wahyu Pamungkas



Aku menunggu waktu cukup lama untuk hal ini. Menunggu kau untuk menjawab semua pertanyaan yang aku todongkan dengan panjang lebar, dan pastinya jelas. Tapi apa? Dari semua kosakata tentang 'tolong jawab pertanyaanku' yang semula ingin sekali aku keluarkan dari mulut, seketika hanya topik basi yang terlontar, seperti: 'kenapa sms gak dibales?' atau 'kamu sekarang lagi ngapain?'. Argh, menunggu balasan darimu saja sudah memakan waktu seharian.

Dan ini saatnya kita meluruskan masalah yang sudah berlarut-larut selama setengah tahun belakangan. Lagi-lagi, akulah yang memulai percakapan lebih dahulu.


******

"Kamu masih inget gak kenapa aku lebih milih kamu ketimbang dia?"
"Saya lupa."
"Ayolah, masa kamu gak tau sih?"
"Yang tadi? Oh, karena saya mirip sama idola kamu."
"Aku gak cuma ngomong itu, ayo inget-inget lagi."
"Gak tau."
"Yang ini loh: 'aku cuma punya nomor hape sama FB kamu'?"
"Memang apa bedanya, sih? Kan kontak dia banyak."
"I don't wanna lose you."

Sepertinya kau memiliki ingatan jangka pendek, atau mungkin kau pura-pura amnesia, entahlah. Namun sungguh, dengan sikapmu itu membuatku dongkol. Dan aku memang tak bisa jauh dari bayang-bayangmu, dan aku tidak ingin kehilangan kontak. Aku tak mau ketika kita sudah jauh, semuanya akan seperti dulu, tidak saling kenal.

"Kalo misalnya saya jadian sama orang lain, gimana? Terus kalo kamu jadian sama orang lain juga, gimana?"

Hmm... pertanyaan berat. Aku balik bertanya.

"Kalo misalnya aku jadian, perasaan kamu gimana?"
"Ikut seneng."
"Ask your heart then, how does it feel?"
"Kan saya ngerasa ikut seneng kalo orang lain seneng."
"Ada rasa lain?"
"Enggak."

Memang aku juga merasa seperti itu jika aku jadi kamu, turut senang.

"Dulu, katanya kamu punya rasa sama aku ya? Jujur aja."
"Ya."

Nah!

"Sekarang udah enggak?"
"Ho'oh."
"Kenapa?"
"Pas saya denger kamu jadian sama dia."

Ya ampun! Sudah berapa kali kamu menyebut alasan ini? Tapi kali ini hanya sekedar meyakinkanku.

"Beneran? Gak asal ngomong, kan?"
"Iya."

Aku masih ragu kamu menjawab pertanyaanku dengan tulus.

"Jadi kamu cemburu sama dia?"
"Bukan. Cuma saya gak mau ganggu hubungan kalian aja."
"Tapi kamu tau kan kalo aku gak jadian sama sekali sama dia?"
"Terus?"

Gak mau mengganggu hubungan aku dan dia? Omong kosong! Dan kenapa kamu memberikan pertanyaan yang menggantung?

"Kamu gak akan pacaran gara-gara ini?"
"Gara-gara itu saya mikir gak akan pacaran dulu."

Ternyata kamu punya perasaan juga. Tapi kenapa kamu dengan mudahnya percaya kabar burung itu?

"Aku rada bego juga, sih. Ngapain aku bawa temen aku cuma buat nunjukkin kamu kalo ujung-ujungnya berabe kayak sekarang. Seandainya waktu diputer, kamu bakal ngapain?"
"Saya juga gak tau."

Kamu belum sempat memikirkan? Hellooooo..... pikiran kamu kemana saja?

"Ohya, dari awal aku suka sama kamu sampai saat ini, aku udah ngapain aja ke kamu?"
"Maksudnya?"
"Selama ini aku udah ngelakuin apa ke kamu?"
"Masih gak ngerti."
"Apa-yang-udah-aku-lakuin-ke-kamu?"
"Sumpahnya gak ngerti juga."
"Oh My...... lupain!"
"Terus?"

Bahasa apa yang harus aku gunakan agar kamu paham? Bahasa isyarat, kah? Dan lagi-lagi kamu menanyakan kalimat yang sama.

"Aku ini.... ternyata udah buang-buang waktu hampir enam bulan cuma buat orang yang gak ngerasain hal yang sama. Aku lebay, ya?"
"Gak juga, berarti kamu udah tulus sama orang itu tapi kamu gak dapet apa-apa."
"Kamu juga tulus, gak? Atau karena terpaksa aja?"
"Saya juga gak tau, cuma ngikutin arus."

Makasih untuk penggambarannya, tapi aku kurang yakin dengan 'cuma ikuti arus'.

"Aku bakal nungguin kamu sampe kelulusan. Tapi tergantung kamu juga, aku gak mau sakit hati lagi."
"Kalo gak mau sakit hati mending cari orang lain aja. Mau gimana lagi sebab saya gak pacaran, gampang putus, galau, cuma buat pamer, minta PJ (= pajak jadian), biasanya liat orang lain terus move on."

Aku suka bagian ini, karena kamu menunjukkan kebesaran hati untuk melepasku.

"Ada kok yang udah putus, tapi gak bisa ngelupain mantannya. Percuma dapet baru, toh yang ada di pikirannya cuma si mantan."
"Berarti itu orang bodoh. Buat apa jadian kalo akhirnya putus."

Baru pertama kali aku melihat kamu sebijak ini. Benar apa kata kamu, orang yang susah move on itu orang bodoh. Mereka yang susah bergerak maju untuk melupakan mantannya pasti mempengaruhi hari-hari kedepannya.

"Jadi kamu bakal jomblo terus ya?"
"Mungkin."

Yakin bakal tetap sendiri?

"Aku nanya, kamu pernah ngerasain apa yang aku rasain? Kamu jangan jawab 'gak ngerti'."
"Pernah mungkin, rasanya seperti itu."

Bisa kamu gambarkan rasanya? Kurasa hanya orang-orang yang memahami bahasa dan duniamu saja yang bisa menafsirkan.


******

 
Dan kalimat itu menjadi penutup di dialog yang masih belum menemukan titik terang dari masalah kita. Aku berharap pada Tuhan agar diberi kesempatan kembali untuk membahas sampai tuntas dan bisa menarik kesimpulan akhir.
Hai untuk kamu yang di sana.

Sedari dulu aku sudah menyimpan rasa kepadamu, dan kau tahu itu. Dan sudah seharusnya kau tahu cara merespon perasaan itu.
Tapi apakah kau tahu seperti apa?

Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda. Itu terjadi dengan kita.
Aku dengan sifat yang aneh dan blak-blakan, sedangkan kau tertutup dan seolah-olah membatasi dirimu untuk bertemu dengan makhluk lain selain yang ada di duniamu.
Yang aku tanyakan, apakah kedua sifat itu akan saling menyatu dan bisa dipahami oleh masing-masing pribadi?

Dulu sekali, kau memberi perhatian lebih dan menggodaku dengan kata-kata manis.
Dulu sekali, kau menghiburku saat aku sedih.
Dulu sekali, kau khawatir dan menanyakan keadaanku ketika aku sedang tidak masuk sekolah.
Dulu sekali, kau berterima kasih kepadaku karena aku telah membantumu mengerjakan tugas, padahal kau tidak meminta.

Namun sekarang...

Kau mengacuhkanku dan menganggapku angin lalu.
Kau memperlakukanku dengan sangat sinis.
Kau selalu memberi jawaban yang menggantung di setiap pertanyaanku.
Parahnya, kau bahkan tidak pernah menghargai pengorbanan yang sudah aku berikan demi kamu! Termasuk dengan mengorbankan rasa cinta orang lain kepadaku.

Boleh aku tanyakan satu hal?
Bayangkan, jika kamu ada di posisi aku. Tidak pernah menghargai usaha seseorang hanya untuk membahagiakan orang yang dia suka, menggantungkan rasa cinta orang lain,  tidak pernah peka terhadap sekitar.
Rasanya sakit, bukan?

Aku tahu kau memang memiliki sifat dingin.
Aku tahu kau tidak akan menjalin hubungan sebelum kau masuk SMA.
Aku tahu kalau aku tidak bisa memaksakan kehendakku jika kau memang begitu.

Aku tidak mengharapkan karma, yang aku inginkan hanya kau bisa peduli dengan apa yang aku rasakan sekarang.





Bandung, Juli 2012.

Aku sudah berstatus murid kelas delapan. Rasanya senang, namun juga sedih.
Aku senang karena aku naik kelas dengan nilai yang bagus, sedih karena apakah kelas 7A akan masih bersatu atau dipecah?

Dari awal pikiranku saja sudah diduga kalau kelas akan dipecah dan disebar ke kelas lain. Bukan dari saat kenaikan, aku dan lainnya di 7A sudah memikirkan hal itu sejak awal semester dua. Ketika itu teman dari kelas lain mengatakan kelas kami akan benar-benar dipecah. Ah...

Ternyata dugaanku benar, Sharen memberitahu bahwa aku dan sebagian lain masuk kelas 8B. Aku coba tanya Galih, atau Lerisa. Mereka masuk 8A. Aku tanya Adam, Aldi, dan Ramdani. Mereka masuk 8F.

Aku merutuk dalam hati, kenapa kelasnya dipecah? Alasannya apa? Apa mungkin karena gosip saat itu waktu 7A sempat bermasalah sama kakak kelas? Entahlah.

*********

Suasana hari ini terasa mendung. Otakku masih berputar-putar mengingat pengumuman itu. Aku mencoba menyembunyikan perasaan kecut itu dengan candaan dan senyuman di depan adik kelas yang hendak di MOS. Saat ini aku adalah anggota OSIS, aku ditugaskan di kelas 7J, kelas yang mendadak muncul ketika H-1 MOS.

Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi di saat yang tidak tepat? Apa Engkau sudah takdirkan sebelumnya?
 
Mendadak ingatanku tertuju pada suatu kejadian di dalam angkot, ketika itu ada kakak kelas berteriak. Aku masih ingat kalimatnya.

"Nab, gak kerasa kita udah kelas sembilan lagi. Setahun kok rasanya cepet banget."
"Iya, Syif. Kangen beraaaaat..."

Mendengar kalimat itu saja sudah bikin pikiran melayang kemana-mana. Kalau sekarang ada orang disampingku, pasti sudah aku cekik saking frustasasinya.

Karena omongan itu tidak akan bisa terbukti di kehidupanku, mungkin dengan yang lainnya.
*********

Kutatap daftar nama murid 8B, dan ternyata... Oh My, banyak nama-nama yang aku benci. Dibenci karena perilaku mereka saat kelas tujuh. Apalagi ada salah satu nama yang paling aku tidak suka. Aku tidak akan sebutkan. Seperti yang dikatakan oleh guru: Kesan pertama adalah penentu hari-hari selanjutnya.

Tapi ada juga nama anak yang lumayan baik, sebagian ada yang bisa diajak ngobrol. Oke, sekarang mulai tidak terlalu buruk.

Aku mencoba berteman dengan orang yang aku kenal terlebih dahulu. Maksudnya, lebih mendekati serta mendalami satu sama lain. Lalu aku mengamati anak-anak nakal, ternyata  mereka tidak seburuk yang aku ekspetasikan sebelumnya. Justru dengan perbedaan karakter dari setiap orang, kelas 8B diibaratkan sebagai puzzle yang saling melengkapi.

Beberapa waktu kemudian aku mulai bisa beradaptasi dengan dunia baru ini. Dan aku mulai membenarkan anggapan kakak kelas itu.

*********

Sekarang

Tidak bermaksud munafik atau apapun, tapi aku memang menyukai kelas delapan. Mulai dari gurunya, suasananya, sampai teman-teman yang, aku tidak bisa menjelaskannya. Speechless.

Tak terasa tinggal satu semester lagi dengan kalian semua. Lewat kalian aku mendapat pelajaran paling berharga dalam hidup.

Jangan melihat sesuatu hanya dari tampang depan. Coba dekati, dan perdalam. Siapa tahu belum tentu anggapan orang terhadap sesuatu itu benar adanya.

Semoga dengan tulisan ini kalian semua dapat merasakan hal yang sama :)
Awalnya, tepatnya siang tadi, di jejaring sosial salah satu teman saya menge-post tweet yang kalau tidak salah, isinya seperti ini:

"Ih, malu-maluin sekolah aja mbak! Haha"
  
Tweet tersebut memang tidak menunjukkan sebuah hal mencurigakan, toh dia saja tidak menyebutkan siapa objek yang dimaksud. Lalu dengan rasa penasaran yang tinggi, saya menanyakan siapa orang yang dia sebut itu.

Dia hendak memberitahu, tapi lewat Direct Messages, bukan di Timeline langsung. Oke, sepertinya ini menyangkut hal pribadi yang orang lain tidak perlu tahu. Kemudian saya langsung menuju Direct Messages.

Dia memberikan sebuah link web. Oh, dari FB rupanya. Namun yang buat saya heran adalah kenapa di link tersebut terdapat kata 'Photos'? Saya sedikit curiga.
Akhirnya saya membukanya. Saya sedikit kaget dan geleng-geleng kepala. Apa-apaan ini?! Kok bisa ya anak seangkatan saya meng-upload foto semacam ini.

*********

Heboh memang, tapi bukan pada siang itu.

Lalu sorenya mendadak Twitterland menjadi kacau dan gempar dengan foto tersebut. Tapi bukan dia yang menyebarkan. Entah siapa.

Mulai dari kakak alumni sampai sebagian kecil adik kelas ikut membicarakan. Semua cercaan dan makian dilontarkan tanpa sensor.

"Tu cewek murahan banget!"
"Woy, malu-maluin sekolah tau gak!"
"Mungkin dia terinspirasi dari film 17+ ya? Makanya dia gitu."
 "Cepetan lapor ke BP, sebelum terlambat."

Pacaran sih pacaran, tapi tidak sevulgar dan separah ini. Apa cewek di foto itu dibiarkan terlalu bebas di luar kah? Apa pergaulannya salah?

**********

Foto yang membuat gempar seisi jejaring sosial itu adalah: foto dia berciuman bibir dengan kekasihnya di lapangan sekolah. What a F*ckin' Picture. Ya ampun....

"Yang lain ngidolain boyband, gue ngidolain news anchor."

Begitulah penggalan dari bio akun jejaring sosial saya saat itu. Terdengar aneh memang, tapi ini benar.

Saya memang sejak kecil sudah mengidolakan sejumlah presenter berita, baik laki-laki maupun perempuan. Saya memang mengidolakan mereka karena tampangnya yang lumayan cantik dan tampan. Hehehe, kebuka deh aib saya -_-

Tapi saya tidak akan membahas lebih jauh lagi soal itu. Saya ingin bercerita apa yang terjadi di sekolah saya, masih ada sedikit kaitannya dengan curhatan di atas tadi.

Hari Selasa, di ruang kelas 8B, Bu Masrifah menyuruh semua siswa untuk membaca cepat 250 kata per menit. Saya bersama Sharen (teman sebangku saya) lagi asyik ngobrol sana-sini.
Kemudian mata saya mengalihkan pandangan menuju depan papan tulis. Saya melihat ada anak cowok yang lagi di-tes.

Namun...... yang membuat saya kepikiran sampai sekarang adalah saat saya melihat wajah anak itu. Mengingatkan saya pada salah satu idola saya. Sedikit mirip.

'Sher, siapa sih nama anaknya?' tanya saya.
'Setau aku sih Syahrul. Emangnya kenapa, Ril?' jawab Sharen.
'Mirip Indra doooooong!!! Aaaaaah!!'
'Hah? Masa iya?'

*********

Setibanya di rumah, saya masih membayangkan muka cowok yang namanya Syahrul itu. Dalam keadaan kepala terbenam di bantal, saya menjerit histeris tak karuan. Di dalam hati.

Dan hingga keesokannya, di kelas saya hanya memandang Syahrul. Sampai saat ulangan tengah semester pun, sesekali saya menoleh ke bangkunya.
Gila gak, sih? Konyol banget.

Pada akhirnya saya sempat ngobrol-ngobrol sedikit dengannya. Sayangnya, dia terlalu polos. Kalau ditanya sesuatu pasti dijawabnya singkat. Begitu main mata juga dia menodong saya dengan kata 'Apa?!'.

*********

Ceritanya memang lumayan pendek dan kurang jelas (saya akui itu). Tapi karena fanatisme saya terhadap idola saya, ya sudah, saya seolah-olah bertemu, mengobrol, dan bermain dengan idola saya itu. Singkatnya seperti itu.



Apa sih sahabat itu?

Dilihat dari kacamata seorang Nuril, sahabat merupakan suatu hubungan yang bisa dikatakan lebih 'intim' dari teman.

Bermula dari sebuah obrolan kecil, lalu kerja kelompok bareng, sampai berujung pada sebuah perjanjian bahwa kita akan menjadi satu kesatuan yang tak akan bisa dilepas. Ya, seperti yang sudah saya sebutkan, SAHABAT. Tanggal 17 bulan Februari tahun 2012.

Jujur. Selama hidup saya, baru saat SMP saya merasakan atmosfir persahabatan yang sesungguhnya. Mereka seolah mengingatkan saya apa arti 'sahabat' sebenarnya, dan tak jarang saling melengkapi. Mereka pulalah yang membantu menyelesaikan masalah ketika yang satu tak bisa melakukan itu seorang diri.

Tapi tak jarang pula mereka--begitupun saya--kerap berselisih paham. Entah itu karena hal sepele (contohnya: main hape orang tanpa izin), sampai yang cukup serius (contohnya: saya waktu itu sempat menghina teman saya gara-gara kejadian razia ponsel secara besar-besaran di sekolah yang melibatkan dia yang merupakan anggota OSIS). Tapi semua itu tidak mengoyak hubungan persahabatan hingga menjadi robekan-robekan kecil.

Oh, sudah tidak terasa lebih dari 9 bulan kita bersahabat. Walaupun kelas kita entah dimana dan entah kapan disatukan kembali, mudah-mudahan kita masih terikat dengan pertemanan ini.
Dan hingga kita terpisah kembali ke belahan dunia lain, semoga kita akan terus ingat hal ini. I Love You All!

-Sheiliyana Sharen, aku, Fitri Mardiyyah, Annisa Rizkymelia Paraditha, Galih Sekarwangi, Anindita Milenia Sabatini- @AfikaaaFams